Ukara tanduk dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kalimat aktif. Sedangkan ukara tanggap dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan kalimat pasif. Dalam Bahasa Jawa sendiri, ukara tanduk dan ukara tanggap termasuk istilah dalam Paramasastra Jawa.

Paramasastra Jawa merupakan ilmu yang mempelajari mengenai huruf, suku kata, kata, dan kalimat. Kalimat dalam Paramasastra Jawa dibagi menjadi dua berdasarkan tindakan jejer terhadap wasesa dan bentuk kalimat.

Berikut ini penjelasan untuk mempelajari kalimat berdasarkan tindakan jejer terhadap wasesa, yakni ukara tanduk dalam Paramasastra Jawa.

Arti Ukara Tanduk

 

Ukara tanduk adalah kalimat yang predikatnya (wasesane) menggunakan kata kerja (kriya) tanduk atau mendapatkan ater-ater anuswara (n-, m-, ng-, ny-). Subyek (jejer) dalam ukara tanduk umumnya melakukan pekerjaan.

Arti Ukara Tanggap

 

Ukara tanggap adalah kalimat yang predikatnya (wasesane) mendapatkan ater-ater tripurusa (dak-, kok-, di-) dan sisipan –in-. Subyek (jejer) dalam ukara tanggap umumnya dikenai  pekerjaan.

 

Oleh sebab itu dalam Bahasa Indonesia, ukara tanduk sama artinya dengan kalimat aktif. Di mana dalam kalimat aktif dinyatakan bahwa kalimat yang subyeknya melakukan suatu pekerjaan.

Ada cara untuk memudahkan mengingat pengertian ukara tanduk, yakni dengan mengambil kata “tanduk” itu sendiri. Tanduk adalah bagian hewan yang terletak di kepala, sehingga dalam ukara tanduk subyek biasanya ditempatkan di depan kalimat.

Kalau diterangkan dalam bahasa jawa sebagai berikut :

A. Pak Santoso mirengaken pawartos bahasa Jawi.

B. Pawarta iku digiyarake penyiar ing radio.

Gladhen

Tuladha:    

Tulis :  Aku lagi nulis aksara jawa. ( ukara tanduk )

Tulis : Undhangane lagi ditulis adhik. ( ukara tanggap )

Tembung lingga ing ngisor iki gawea ukara tanduk lan ukara tanggap kaya tuladha ing dhuwur !  

  1. Tuku             : 
  2. Waca             : 
  3. Tendhang : 
  4. Sapu             : 
  5. Jupuk             : 
  6. Gandheng :
  7. Pundhut :
  8. Pangan : 
  9. Tumpak : 
  10. Tata :

Demikian tadi penjelasan mengenai ukara tanduk dan ukara tanggap, setelah kalian memahami perbedaan ukara tanduk dan ukara tanggap, maka kalian harus bisa membuat ukara tanduk lan ukara tanggap dari tembung-tembung lingga tersebut.

Demikian materi ukara tanduk dan ukara tanggap ,semoga bermanfaat bagi kita semua dan semoga bahasa jawa tetap lestari sepanjang masa. aamiin….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *